Mau dikemanakan Al Quran?

Merasa khawatir kaum Qurays akan terpesona dengan keindahan Al Quran, si kafir Abu Jahal meminta Walid bin Mughirah untuk berkomentar miring tentang Al Quran. Dia adalah raja penyair ketika itu, paling ahli dalam hal syair dan lagu. Baik syair jin maupun syair manusia. Tapi apa mau dikata, Walid justru tak sanggup menyembunyikan kekagumannya terhadap Al Quran. Ia berkata, “ Apa yang bisa saya katakan…?” Lalu dia pun menggubah syair yang mengisyaratkan kehebatan dan kesempurnaan Al Quran. Dari keindahan bahasa, kedalaman makna juga keagungan pesan yang terkandung di dalamnya. Pengakuan orang yang tetap tidak beriman karena khawatir akan jatuh pamornya di mata kaumnya yang kafir.

Namun sayang, hari ini banyak kaum yang mengaku beriman justru tak lagi memandang takjub terhadapnya, tak tertarik untuk menyimaknya, bahkan untuk sekedar meliriknya. Pada saat bersamaan, mereka menjatuhkan pilihan pada nyanyian murahan sebagai gantinya, yang tak layak dibandingkan dengan Al Quran, terlebih menggantikan posisinya. Kebutuhan mereka akan nyanyian bahkan melebihi kebutuhan terhadap makan dan minum. Tak cukup hanya tiga kali sehari, hingga tidur pun diantar nyanyian.

Apa kiranya alasan mereka lebih enjoy mendengar nyanyian daripada Al Quran ? Lebih puas ketika mampu menghafal lagu daripada menghafal ayat-ayat Allah? Karena keindahan bahasanyakah? Demi Allah, tak ada bahasa yang mampu mengungguli keindahan bahasa Al Quran.

Atau karena isinya yang menyentuh? Padahal ucapan sia-sia dan bertaburan dosa di dalamnya. Berbeda dengan kalamullah yang tak ada satu huruf pun yang sia-sia. Bertabur hikmah dan faedah tiada hingga. Dijanjikajn pahala per huruf bagi yang membacanaya, apalagi yang mempelajari dan mengajarkannya. Adapun nyanyian, apakah yang bisa didapatkan darinya?

Satu lagi yang paling mungkin, mengapa mereka memilih nyanyian daripada Al Quran, yakni kendali hawa nafsu yang bertengger di hati dan pikiran mereka. Pengulangan sejarah telah terjadi. Dahulu, orang-orang menyimpang berpaling dari Al Quran yang didakwahkan Nabi, lalu condong dan mengikuti para penyair yang suka mengumbar kata yang muluk-muluk, penghias bibir, dan jauh dari realita yang mereka perbuat. Fenomena itu diabadikan kisahnya dalam Al Quran,

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidaklah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah. Dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakannya?” [Asy-Syuara’:224-226]

Bandingakan fenomena itu dengan realita hari ini, bukankah nyaris sama dan sebangun? Bedanya, road show dahulu dilakukan dari lembah ke lembah, namun sekarang dari kota ke kota.

 

Izzuddin edisi 67 th. 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s