In Harmonia Progessio, Institut Teknologi Bandung 2010

– seiko udoku, literally means clear sky, cultivate, rainy, reading –

Kereta api Lodaya Express berangkat pukul 09.00 pagi dari Stasiun Solo Balapan. Dalam posisi duduk nyaman, sebenarnya saya masih gelisah dan tidak yakin dengan perjalanan yang akan saya lakukan. Apakah perjalanan ini murni untuk berjuang meraih cita-cita atau semata-mata main saja ke Kota Kembang. Jika iya hanya sekedar main, bukankah amat sayang uang yang harus dikeluarkan untuk perjalanan dan hidup selama seminggu di Bandung, sementara sebentar lagi saya pasti akan lebih banyak menggunakannya untuk kebutuhan pra-kuliah. Jika bukan sekedar main, lantas bagaimana dengan kondisi yang berbicara bahwa 99 % saya akan memenuhi panggilan daftar ulang PMDK Beasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Saya benar-benar bingung. Tiket sudah di tangan, kartu kendali dan berkas seleksi Penulusuran Minat dan Bakat ITB juga sudah lengkap, teman-teman nampak bersemangat dan peluit tanda kereta berangkat sudah dibunyikan.

Saya benar-benar tidak tenang apalagi ketika teringat nasehat Ibu untuk membatalkan saja keberangkatan ini mengingat surat dari ITS yang datang beberapa hari sebelumnya. Hingga kira-kira sampai di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta saya hanya menghabiskan waktu melihat ke arah luar jendela kereta. Tanpa terasa ada sms masuk

 Mas, jadi berangkat ke ITB ? Semangat ya pokoknya! Aku sama Rere nyesel kemarin gak jadi daftar “

Amik Agisti, teman dari kelas akselerasi yang juga diterima PMDK Beasiswa ITS Jurusan Biologi. Dia, Renita Putri Maharani yang kini di Psikologi UI kemudian Arifin yang duduk di samping saya waktu itu termasuk dari deretan siswa ITB Holic. Sedangkan saya sendiri yang tidak terlalu menahu apa itu ITB sekedar menuruti opini publik saja yang mengatakan bahwa ITB adalah salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sms tadi sedikit menenangkan saya. Ternyata masih ada pihak yang sebenarnya berharap ada di posisi saya sekarang. Beberapa teguk air putih membuat saya jauh lebih tenang lagi. Seiring dengan melajunya kereta, saya pun mulai bisa menikmati perjalanan. Bahkan menyempatkan diri untuk melakukan kegilaan dengan membuka pintu gerbong dan berteriak-teriak bersama Arifin di tengah suara gesekan rel dan roda serta diantara bukit dan pegunungan lintas selatan pulau Jawa.

” I’m Coming Bandung, We’re Coming ITB “

Begitulah kira-kira dengan tanpa dosa kami mengusik ketenangan penumpang lain.

Sembilan jam kurang lebih akhirnya kami sampai di Stasiun Bandung. Udara dingin menerpa wajah-wajah kusut bekas perjalanan jauh.  Kami sudah ditunggu oleh beberapa kakak alumni SMA Negeri 1 Surakarta di ITB yang dengan sangat baik menjemput kami meskipun bukan adik kelasnya. Perjalanan beralih dengan angkot sampai kira-kira kumandang adzan Isya akhirnya kami sampai di jalan menuju pintu masuk ITB. Saya, Joko dan Aan menginap di kos Mas Anang Nugrahanto, FTTM ITB Alumni SMA Negeri 1 Sukoharjo. Sedangkan Arifin dan Prias menginap di kos Alumni SMA Negeri 1 Surakarta.

Ada hal yang menggelitik sesampainya sampai di Rumah Visi, sebutan kos Mas Anang waktu itu, ketika akan melepas sepatu terpampang tulisan berukuran sedang di dinding

” Rapikan Sandal Antum, Bagaimana Antum dapat merapikan rakyat jika soal merapikan sandal antum sendiri saja tidak bisa ? “

Pertama kali saya mendapat tulisan seperti itu. Sempat heran dan aneh juga. Namun jika dipikir, tidak ada yang salah dengan tulisan tersebut. Hanya waktu itu saya berpikir, urusan merapikan sandal saja bisa sampai segitunya dihubungkan dengan merapikan rakyat.

Setelah mandi dan sholat, kami langsung tidur. Perjalanan jauh dan hawa dingin membuat kelopak mata tidak mampu lagi menahan gaya gravitasi bumi. Yah, kami sudah di Bandung. Di dekat kami sudah ada ITB yang kata mereka sangat hebat itu.

Hari Pertama

Alhamdulillah, tidak terlambat datang sholat shubuh. Melewati gang-gang kecil yang lembab dan gelap, akhirnya sampailah di Masjid Darud Da’wah Pelesiran. Walaupun kecil, tapi bangunan masjidnya unik karena berhasil memanfaatkan setiap sisi ruang, itu sih pendapat saya. Mahasiswa ITB yang jama’ah juga tidak sedikit. Bahkan imamnya adalah salah satu dari mereka.

Selesai sholat shubuh, kami mengadakan pengakraban dengan penghuni Rumah Visi yang lain sambil sharing pengalaman kuliah di ITB. Tidak satu pun dari mereka yang kecewa menjadi bagian dari ITB. Mereka sangat bangga dengan almamaternya walaupun berasal dari jurusan yang berbeda-beda. Saya menjadi semakin dibuat penasaran, seperti apa sebenarnya kampus yang mereka sebut Ganesha itu ? Dan sepertinya semua akan terjawab karena agenda hari ini adalah keliling kampus ITB. Sambil menunggu teman-teman selesai mandi, saya membuka-buka buku di rak Mas Anang dan menemukan judul yang menarik, Strategi Sukses di Kampus. Sekilas membuka bagian pendahuluan, ada kalimat yang membuat saya tersenyum

” Maka, kalau ingin terasa khasiatnya, cobalah mengamalkannya walau sedikit-sedikt. Bukankah Bruce Lee akan babak belur jika hanya membaca buku panduan kungfu dan tidak pernah berlatih jurus ? “

Belum sempat membaca lebih lanjut, Mas Anang dan teman-teman mengajak berangkat.

Jalan kaki dan kembali menyusuri lorong dan gang sempit serta bersisipan dengan pejalan kaki yang lain. Wilayah Pelesiran waktu itu tidak rata ketinggiannya. Jadi kami harus naik turun sampai ke Jalan Tamansari. Sebelum sampai di Jalan Tamansari, di jalan naik setapak, sekilas terlihat pemandangan gedung-gedung kota Bandung yang menjulang. Mas Anang bilang salah satu dari gedung itu adalah Mall Ciwalk, yang sering dipakai syuting sinetron. Saya hanya mengangguk saja, karena sebenarnya tidak menahu juga apa yang beliau maksud. Pikiran saya waktu itu pokoknya harus segera sampai di kampus utama ITB, saya benar-benar penasaran.

Kurang lebih lima belas menit berjalan, sampailah kami di Jalan Ganesha. Yah, saya berdiri di pintu masuk Institut Teknologi Bandung. Pintu masuk yang nampak kokoh meskipun tersusun dari batuan-batuan tua. Dia atasnya menjuntai bunga-bunga merah dan oranye yang menyejukkan mata. Di depannya berdiri tiang bendera yang menancap kuat pada tugu bertuliskan Institut Teknologi Bandung dengan lambang Ganesha. Kami terus berjalan masuk. Entah, jika biasanya saya bingung arah ketika berada di tempat yang baru, namun di ITB ini saya benar-benar merasa nyaman. Saya paham betul waktu itu kami berjalan ke arah utara melewati pohon-pohon tinggi dan rindang. Di kanan dan kiri saya berdiri bangunan kampus yang nampak sudah tua namun begitu terawat. Tentu tidak semua bisa kami lihat dengan detail mengingat keterbatasan waktu.

Semakin ke utara, posisinya semakin tinggi. Sehingga setiap berjalan beberapa meter, kami harus melewati jalan berundak. Sampailah kami di sebuah kolam air. Di dasarnya tergambar jelas peta Indonesia. Kata Mas Anang, mahasiswa ITB sering menyebutnya kolam Intel atau Indonesia Tenggelam. Sebenarnya saya pernah ke tempat itu sebelumnya, beberapa kali bahkan, namun hanya lewat mimpi. Saya berdiri mendongakkan kepala, memandang langit Bandung yang biru dan cerah dan sama sekali tidak terasa panas. Hingga saya sadari ada yang aneh dari bangunan kampus yang mengitari saya. Saya menghadap ke utara, beralih ke timur, ke barat dan ke selatan. Baru saya sadari jika bangunan kampus ini dibuat simetris antara satu dengan yang lainnya. Mulai dari tinggi, bentuk dan ukurannya. Benar-benar kampus yang unik.

Kami melanjutkan berjalan lagi hingga berada pada posisi tertinggi yang disebut sunken court waktu itu. Di sebelah timurnya adalah UPT Perpustakaan Pusat ITB dan sisi baratnya gedung Pusat Antar Universitas menjulang tinggi. Kami diajak menuruni sunken court, berjalan melewati lorong bawah tanah dan sampai di Pusat Fasilitas Olahraga hingga berlanjut di Sasana Budaya Ganesha. Kampus ini benar-benar membuat saya takjub. Membuat saya percaya diri dan merasa nyaman sekali berada di tengah-tengahnya, seolah saya sudah menjadi bagian darinya.

Perjalanan hari itu kami tutup dengan sholat Isya di Masjid Salman. Masjid yang begitu unik karena tersusun dari bilah-bilah kayu. Cess, rasa dingin menyentuh lantai masjid. Udara senja yang tenang mengantar manusia memanjatkan harapan kepada Yang Maha Tinggi.

Hari Kedua

Tidak seperti biasanya jika pergi jauh dari rumah rasanya selalu terbayang suasana kampung halaman yang sejuk, tenang dan damai. Kali ini, saya merasa sangat nyaman dan tidak ada tanda-tanda homesick. Hari kedua, saya dan Mas Anang menghabiskan waktu seharian di Perpustakaan Pusat ITB. Awalnya saya agak canggung dan tidak percaya diri kalau-kalau harus menunnjukkan kartu tanda anggota. Namun, Mas Anang meyakinkan bahwa hal tersebut tidak berlaku pada waktu itu.

Gedung perpustakaan ITB sungguh unik. Dari luar, bentuknya saja sudah agak aneh. Dan sesampai di dalam, tata ruangnya pun menurut saya juga aneh. Namun sangat bersih dan nyaman. Saya sempatkan diri menggunakan fasilitas internet disana untuk membuka facebook.

” Yogyakarta, Surabaya, Bandung “

up date status selesai. Sebelumnya saya memang sudah mengikuti UM UGM di kampus UGM sendiri. Namun hasilnya sangat membuat saya frustasi berat meskipun jika dipikir itu semua juga murni salah saya sendiri. Kemudian sebelumnya saya juga sudah mengunjungi Surabaya untuk menyerahkan berkas ke Politeknik Elektro Negeri Surabaya setelah dinyatakan diterima di Jurusan Elektro Industri jalur PMDK Beasiswa yang akhirnya saya lepas karena dinyatakan diterima di Teknik Elektro ITS PMDK Beasiswa juga. Dan sekarang saya berada di Bandung sebagai seorang siswa SMA yang mendapat undangan seleksi Penelusuran Minat dan Bakat Terpusat ITB Berbeasiswa. PMBP, yah hampir saja saya melupakannya. Pikiran bingung kembali menghampiri. Haruskah saya melanjutkan seleksi ini? Bagaimana dengan surat dari Rektor ITS? Saya gelisah. Komputer saya matikan. Saya hampiri Mas Anang di Sampoerna Corner. Niat hati ingin bercerita tentang itu semua. Namun tidak kesampaian karena seketika terlupa setelah melihat kartun Tom and Jerry dari TV Flat di pojok ruang itu.

Hari Ketiga

Pagi-pagi kami berangkat menuju rektorat ITB. Karena gedungnya berbeda lokasi dengan kampus ITB, kami harus berjalan kaki lebih jauh lagi. Gedung Annex. Sekali lagi gedung tua yang unik. Disana kami menukarkan berkas dan surat kendali yang kami terima dengan kartu ujian. Kondisi sepagi itu saja kami sudah harus mengantri dengan banyak peserta lainnya. Saya yakin mereka bukan orang sembarangan. Dari jaket yang mereka pakai, banyak bertuliskan ‘International Olympiad’. Sedangkan memandang kualitas diri, rasanya malu untuk mengakui.

Tengah siang, saya dan teman-teman akhirnya mendapat kartu ujian. Ada yang berbeda dengan konten kartu ujian saya. Jika kebanyakan teman satu rombongan pada pilihan fakultas tertulis STEI, FTTM dan FTI maka hanya kartu saya yang bertuliskan SF, SAPPK dan SBM. Yah, Sekolah Farmasi; Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan; Sekolah Bisnis Manajemen. Kenapa berbeda? Karena memang sejujurnya bidang itulah yang paling menarik buat saya waktu itu. Saya hanya sekedar menuruti kata hati dan tidak terlalu mempertimbangkan mau jadi apa setelah lulus dari bidang-bidang tersebut. Buat saya waktu itu yang penting saya suka dengan materi yang akan dipelajari.

Pulang dari gedung Annex, kami mampir sholat di Masjid Salman. Sejujurnya sepanjang perjalanan menuju masjid, pikiran saya kembali berkecamuk. Saya ingin kuliah disini. Saya ingin menjadi bagian dari ITB. Namun bagaimana dengan saran orang tua terkait ITS? Apakah saya harus melepasnya juga sebagaimana saya melepas Beasiswa dari PENS? Air wudhu yang dingin membasahi pori-pori kulit. Selesai sholat, saya merenung sejenak. Memohon petunjuk kepada Allah untuk diberikan jalan terbaik. Pikiran saya benar-benar kalut. Tak terasa, sebulir air hangat membasahi pojok mata saya. Tertegun dan tertunduk sejenak. Jika dulu saya menangis semalaman setelah mengetahui tidak diterima di UGM, kini saya bingung dengan keadaan antara yang sudah pasti diterima dengan yang tinggal setahap lagi saya pun mungkin bisa diterima. Yah, mungkin. Karena memang belum ada kepastian. Di tengah perenungan teringat juga nasehat orang tua untuk memilih ITS saja mengingat sudah pasti diterima dengan beasiswa. Lagi pula nanti di Surabaya, saya juga bisa lebih dekat dengan bapak yang bekerja disana.

Saya bangkit menghampiri Mas Anang di serambi utara masjid.

” Mas, saya ingin bicara sesuatu “

” Bicara soal apa Dek ? “

” emm..sebenarnya..emmm..”, susah sekali untuk mengutarakannya.

” emm apa ?”

” Begini mas,,”, saya coba menghela napas panjang.

” Sebenarnya saya tidak banyak persiapan untuk seleksi kali ini. Baik dari segi mental, materi maupun finansial. Uang saya untuk hidup disini sudah hampir habis. Belum juga untuk perjalanan pulang nanti. Baju yang saya bawa pun hanya beberapa saja. “

” terus ?”, beliau memotong kata-kata saya

” emm..emm..saya mau pulang besok Mas”

kami terdiam sejenak, hanya orang berlalu lalang di depan kami.

” Bagaimana dengan tesnya? “, Mas Anang memulai pembicaraan kembali.

” Sepertinya saya ke ITS saja Mas.. Jujur saya sangat suka dengan kampus ITB. Saya sangat suka dan nyaman dengan kehidupan disini, namun saya akan kuliah di ITS. Lagi pula masih banyak yang belum mendapat kursi kuliah. Masak iya saya harus egois membuang dua kursi yang sudah saya dapatkan? “, saya membohongi perasaan saya sendiri.

” Emm..begitu ya? Yah, sebenarnya kalau urusan uang hidup sampai selesai tes saya juga masih ada walaupun sedikit. Baju-baju saya pun juga banyak yang bisa kamu pakai walau gak bagus-bagus amat. Tapi kalau itu sudah jadi keputusan Wahyu, ya mau bagaimana lagi? Yang penting apa yang kamu jalani itu pertama adalah karena motivasi dalam diri kamu sendiri. Jangan sampai ketika kamu menjalani sesuatu dengan sebab orang lain namun kamu tidak ikhlas, nantinya akan menyusahkan kamu sendiri. ITS juga bagus kog, dan ITB ya seperti yang kamu lihat sendiri beberapa hari ini. “

Kembali kami diam sejenak. Saya menunduk. Tidak kuat sebenarnya menahan gejolak perasaan. Saya tidak ingin meninggalkan ITB, saya ingin ikut seleksi.

” Terima Kasih Mas atas nasehatnya. Saya harap silaturrahmi kita tidak terputus walau berbeda kampus “

Mas Anang hanya tersenyum. Kami beranjak meninggalkan Masjid Salman diiringi gerimis ba’da Maghrib. Suasana ITB mulai sepi.

Hari Keempat

Rasanya, inilah salah satu hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Semua berjalan seperti biasa. Saya sudah mengutarakan niatan untuk pulang pada hari itu kepada teman-teman. Semua barang bawaan sudah saya pack kembali. Siang itu saya menyempatkan lagi untuk berkeliling ITB yang mungkin pada waktu itu saya pikir untuk yang terakhir. Yah, hanya ditemani Mas Anang. Sementara teman-teman yang lain sibuk menyiapkan seleksi PMBP besoknya. Setiap detil ruang dan bangunan kampus saya perhatikan baik-baik. Hanya saya ingat dan saya resapi saja, karena memang pada waktu itu tidak membawa kamera. Mulai dari dedaunan kering yang berserakan, rumput hijau yang membentang di aula barat, bunga yang menjuntai di pintu masuk, semuanya.

Sore menjelang, Mas Anang mengajak saya untuk naik ke gedung PAU lantai paling tinggi. Dari semua gedung di ITB, rasanya memang gedung PAU inilah yang paling tinggi. Sesampainya di atap gedung, saya menemukan kembali pemandangan yang membuat saya takjub. Dari atas gedung itu, saya bisa menikmati landscape kota Bandung dari udara. Melihat ke arah selatan, nampak bangunan-bangunan kecil Kabupaten Bandung. Melihat ke arah timur nampak gugusan gunung seperti benteng raksasa yang melindungi Kota Kembang ini. Melihat ke utara, nampak bukit bunga yang sangat indah, kata Mas Anang, Dago namanya. Sedang di sebelah barat, matahari perlahan bergerak ke peraduannya.

Sebelum kembali ke Rumah Visi, saya menyempatkan diri untuk membeli baju polo biru berlambangkan tulisan ITB. Tanpa disadari ada sms masuk ke hp saya

” Mas Wahyu, kata Mas Anang mas gak jadi ikut tes ya? Kog gak jadi kenapa ? Diteruskan saja Mas, sayang kan sudah sampai sana! “

-Re-

Seandainya sms tadi datang dan memang saya bulat untuk ikut tes, maka tentu saya akan lebih bersemangat. Namun kondisinya berlainan. Saya akan kembali ke Solo malam itu. Dengan sekuat tenaga saya mencoba menahan perasaan. Hanphone saya nonaktifkan dan saya masukkan dalam tas, tanpa sempat saya balas sms tersebut.

Selesai sholat Isya saya memeluk semua teman-teman di Rumah Visi. Saya doakan mereka satu per satu agar lulus dan diterima di ITB.

Sebelum keluar dari Rumah Visi, mas Anang memberikan buku Strategi Sukses di Kampus yang sebelumnya pernah saya ceritakan.

” Ini buat kenang-kenagan, semoga bisa diterapkan juga di ITS nanti “

Saya berjalan menyusuri jalan setapak kampung pelesiran. Mas Anang akan mengantar saya hingga stasiun. Saya tidak berpamitan pada Arifin dan tidak pula memberi tahu soal kepulangan ini sebelumnya. Karena saya paham betul dia tidak akan mungkin membiarkan saya pulang kalau sampai tahu sebelumnya. Bulan purnama terlihat bertengger di atas Mall Ciwalk. Sepanjang perjalanan angkot, saya dalami betul suasana kota Bandung malam itu. ITB, Annex, Gedung Sate, Masjid Agung, semuanya. Hingga akhirnya saya sampai di Stasiun Kiara Condong.

Mas Anang tidak bisa mengantar masuk. Beliau hanya melepas saya sebelum loket pembelian tiket dan berpesan untuk hati-hati di perjalanan. Saya mencoba tegar dan meyakinkan bahwa memang saya akan pulang.

Tiga puluh ribu, berdiri tanpa tempat duduk untuk kereta ekonomi jurusan Bandung-Kediri. Suasana stasiun benar-benar sesak mengingat bertepatan dengan libur panjang. Dan benar saja, kereta pun penuh sesak dengan penumpang. Saya mencoba merangsek masuk meskipun akhirnya sama saja saya harus berdiri sepanjang perjalanan dari Bandung hingga Solo. Tidak ada lagi teriakan I’m Coming. Tidak ada lagi semangat dan senyum seperti waktu keberangkatan.

Saya pulang. Meninggalkan Bandung dan tidak akan menjadi mahasiswa ITB.

//

Selesai di Yogyakarta, November 2012

Wahyu Dwi Saputra

//

– alhamdulillah hingga tulisan ini selesai telah bisa merelakan untuk tidak kuliah di ITB, meskipun akhirnya juga tidak melanjutkan di ITS. Dan kini dalam proses mencari jalan terbaik untuk nantinya melanjutkan studi ke salah satu universitas di Negeri Matahari Terbit bagian timur laut, Insya Allah, semoga Bisa!

– untuk Ibu tercinta :

” Be my mother forever, Be well forever

You still one more job left to do, And that’s to accept your son’s love and respect for you..”

2 thoughts on “In Harmonia Progessio, Institut Teknologi Bandung 2010

  1. catur

    Penuh dengan kenangan dan tragedi, mungkin sangat kontras dengan usaha saya kemarin yang pada akhirnya disini saya memulai langkah dengan jalan yang entah tak pasti dimana tujuannya..Terima kasih atas kisahnya, dan Insya Allah di semestr selanjutnya saya akan berjuang untuk diri sendiri, ibu, dan juga adek kelas

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s