Saudara-Saudara Terbaik

ukhuAkhirnya gerimis berhenti, menyisakan dedaunan dan tanah yang basah. Genangan air memantulkan bayangan awan senja yang lembut. Sejenak saya menengok keluar jendela kamar wisma. Hanya terlihat motor berlalu-lalang melintasi jembatan baru Sinduadi-Monjali. Yah, kembali pada pikiran yang bercokol sejak shubuh, mengingat masa-masa perjuangan kala berada di Kerohanian Islam SMA Negeri 1 Sukoharjo.

Bersyukur rasanya pernah menjadi bagian dari keluarga muslim ini. Keluarga yang dipenuhi dengan orang-orang yang senantiasa bersemangat untuk terus mengadakan perbaikan diri. Orang-orang yang tidak puas sekedar memenuhi otak dengan ilmu dunia, namun juga bekerja keras untuk memahami agama dari sudut pandang ilmiah. Orang-orang yang senantiasa mengingatkan dikala terlena dan selalu mendukung ketika telah berada di jalan yang benar. Orang-orang yang selalu penuh dengan inspirasi dan hikmah yang bisa diambil sebagai pelajaran hidup.

Masa-masa itu pula yang mengingatkan saya pada sosok-sosok garis depan. Sosok-sosok yang pada sejarah hidupnya tercatat sebagai orang yang pernah diamanahi sebagai pemimpin kecil. Pemimpin dari keluarga sederhana yang bernaung di bawah atap Masjid Darussalam. Yah, merekalah orang-orang yang pernah dipercaya menjadi ketua Kerohanian Islam (Rohis) SMA Negeri 1 Sukoharjo. Pada kesempatan ini, sedikit ingin saya ceritakan beberapa dari mereka. Namun, demi menghormati usaha mereka untuk senantiasa beramal dengan ikhlas dan benar, maka cukuplah disini saya sebut mereka sebagai Kakak Pertama, Kakak Kedua, Kakak Ketiga dan Kakak Keempat. Semoga ini tidak akan akan mengurangi hikmah yang bisa kita ambil dari mereka.

Kakak Pertama

Sebenarnya, saya tidak begitu mengenal dekat mas yang satu ini. Karena memang jarak tingkat  pendidikan yang terpaut cukup jauh. Mungkin ketika beliau menjabat sebagai ketua Rohis, saya masih duduk sebagai siswa SMP. Pertama kali saya mengenali nama beliau dari berkas proposal yang tersimpan rapi di perpustakaan masjid. Hampir semua proposal kegiatan yang dijalankan pada masa beliau masih ada dan tersimpan dengan baik. Saya juga mengenali nama beliau ketika tidak sengaja membaca daftar siswa yang diterima UM UGM pada papan pengumuman di timur kelas akselerasi.

Pertama kali bertemu dengan beliau ketika Rohis tersandung masalah dengan beberapa guru. Beliau menyempatkan diri datang dari Jogja untuk menemui pengurus Rohis. Salah satu nasehat beliau waktu itu yang selalu saya ingat adalah,

” Usahakan untuk berlemah lembut ketika kita berdakwah. Jangan pernah merasa paling benar dan meremahkan orang lain yang mungkin belum memahami agama ini dengan pemahaman yang benar, apalagi terhadap orang tua atau guru-guru kita. Kita tidak bisa mengelak bahwa jasa mereka kepada kita sangatlah besar, sehingga jangan sampai karena kita merasa lebih memahami agama ini dibanding mereka, kemudian hal tersebut malah mengurangi rasa hormat dan bhakti kita terhadap mereka. Justru seharusnya kepatuhan dan rasa hormat itu muncul lebih besar lagi dari dalam diri kita sepanjang tidak bertentangan dengan Aturan Allah dan Rasul-Nya. Tunjukkan bahwa anak Ngaji itu mampu melakukan yang terbaik dan menjadi kebanggan orang tua dan guru-guru kita “

Beliau adalah sosok yang gigih dan pekerja keras. Selama kuliah di UGM kabarnya beliau juga bekerja dan merintis usaha. Hingga terakhir bertemu, waktu itu selesai acara temu alumni Rohis, beliau menawari tumpangan kepada teman yang kebetulan tidak membawa kendaraan,

” Kalau mau, ikut gerobak saya saja juga tidak masalah, nanti saya antar sampai rumah! “

Dan ternyata gerobak yang dimaksud itu bukan gerobak sembarangan, tapi gerobak yang mempunyai empat roda.

Kakak Kedua

Rasa-rasanya, inilah ketua Rohis yang paling dekat dengan saya. Dari beliaulah saya banyak belajar dan mendapatkan nasehat. Beliau lulus dari SMA Negeri 1 Sukoharjo ketika saya diterima di SMA tersebut. Pertama kali mendengar namanya adalah dari desas-desus dan perbincangan para guru bahwa salah satu siswa SMA Negeri 1 diterima di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Heran dan takjub juga seorang siswa SMA Negeri bisa diterima di Universitas Islam di luar negeri, sekelas Al Azhar pula. Sejak saat itu, saya selalu berharap bisa bertemu langsung dengan mas yang satu ini.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala mengizinkan saya untuk bisa bertemu langsung dengan beliau. Bahkan bisa berinterkasi dalam jangka waktu yang cukup lama. Saat pertama berjumpa, saya sempat heran juga, bagaimana seorang laki-laki bisa mempunyai kulit yang putih bersih dan bibir semerah itu? Apakah mungkin beliau tidak pernah keluar rumah? Ah, entahlah. Namun, untuk ukuran seorang lelaki, beliau memang rupawan.

Bicara pelan dan menggunakan jeda adalah karakter yang tidak pernah lepas dari mas ini. Saat berbicara dengannya, beliau akan memandang mata kita lekat-lekat dan lebih banyak menjadi pihak yang berada pada posisi pendengar. Bahkan ada seorang teman yang bercerita suatu kesempatan dia berbincang dengan mas ini. Kemudian karena dirasa ada hal yang lucu, maka teman yang satu ini tertawa hingga terbahak-bahak. Namun, mas ini tidak tertawa sama sekali, malah dia pandang teman saya yang tertawa tadi hingga dia kikuk dan akhirnya berhenti tertawa kemudian menundukkan kepala karena malu.

Tidak banyak perkataan yang muncul dari mulut beliau, namun ketika berbicara, pasti selalu ada nasehat dan hikmah yang beliau selipkan, meskipun tidak langsung. Pernah suatu ketika sebelum sholat berjama’ah di Masjid Al Falah dimulai, beliau mendekati saya dan menyalami. Kemudian dengan sedikit berbisik di telinga saya,

” Kaos ini kalau disampuli jaket polosmu pasti akan terlihat lebih baik. “

Memang ketika itu saya hanya mengenakan kaos untuk sholat. Dan setelah mendengar nasehat beliau, saya langsung mundur mengambil jaket dan mengenakannya.

Karakter lain yang tidak pernah lepas adalah aroma wangi. Setiap duduk dengan beliau, selalu tercium aroma parfum yang khas dan menenangkan. Ketika kami bertanya aroma apakah itu, beliau hanya menunjukkan sebuah botol parfum putih merk ‘Silver’. Sejak itu pula, saya dan teman-teman di Rohis mencari siapa yang menjual parfum merk tersebut di antero Sukoharjo. Malangnya, waktu itu belum banyak yang menjual parfum non-alkohol. Sehingga teman-teman terpaksa membeli versi palsunya, itu pun ternyata bau yang muncul malah tidak karuan.

Beliau juga kakak yang sering menyambangi ketika saya dan teman-teman Rohis berkumpul di Masjid Al Falah. Saat berkumpul seperti itu, selain nasehat agar istiqomah mengaji dan rajin belajar, beliau juga sering bercerita bagaimana dulu mengurus Rohis. Kisah yang menarik dari beliau adalah soal pengaturan waktu. Beliau pernah bercerita saat mengurusi Rohis, hal yang pertama beliau lakukan setelah pulang sekolah dan kegiatan di Rohis adalah belajar materi sekolah di sore hari. Kemudian, waktu jeda antara Maghrib hingga Isya beliau gunakan untuk membaca Al Quran dilanjutkan memberi harakat ringkasan kitab-kitab gundul permasalahan agama yang mendasar, seperti Aqidah dan Fiqih. Setelah Sholat Isya, beliau rutin mengikuti kajian kitab dan pada waktu kajian tersebut kitab gundul yang diharakati tadi dicocokkan dengan apa yang dibaca oleh Asatidz, jika ada yang salah maka dibenarkan. Benar-benar sosok pembelajar dan orang yang menghargai waktu.

Suatu ketika, selepas Sholat Maghrib di Masjid Al Falah, saya duduk di dekat serambi. Tiba-tiba adik dari mas yang satu ini kebingungan karena sandalnya hilang. Saya coba membantu mencarikan. Hingga semua jama’ah pulang, ternyata masih belum ditemukan juga.

” Gimana mas? “, tanya adik itu.

” Ya sudah, kamu pakai sandal Mas saja, biar mas nyeker (tidak pakai sandal). Ayo pulang, Makasih ya Dek Wahyu atas bantuannya! “

Kemudian beliau berjalan sambil menggandeng tangan adiknya. Saya hanya berdiri sambil tersenyum.

Saya juga masih teringat ketika diajak main ke rumah beliau, di tengah jalan kami menjumpai beberapa orang yang duduk-duduk di pos ronda. Setelah posisi kami dekat dengan mereka, seketika beliau berhenti dan mengucap,

” Assalamu’alaikum “

Saya waktu itu hanya menganggukkan kepala saja kepada mereka sambil sedikit terheran dengan apa yang beliau barusan lakukan.

Ketika tersiar kabar peperangan antara Ahlussunnah dan Syi’ah di Yaman, hati saya ikut bergejolak. Ada sedikit kekhawatiran karena beberapa waktu sebelumnya, mas ini berpamitan kepada saya melalui sms bahwa beliau akan melanjutkan studi ke Yaman. Saya coba menghubungi beliau melalui facebook dan email, namun tidak dibalas. Yang saya lakukan waktu itu hanya mendoakan kebaikan atas diri beliau, bagaimanapun kondisinya. Karena jika hingga kemungkinan terburuk sekalipun, saya yakin beliau akan berada di pihak yang benar, yakni Ahlussunnah, golongan yang dirahmati Allah Ta’ala.

Beberapa bulan yang lalu, ketika saya memode-‘on’-kan fasilitas chatting di facebook, saya terkejut akun beliau aktif. Tanpa banyak pikir, langsung saya chat

” Assalamu’alaikum, Mas! Bagaimana kabarnya? “

Tidak berselang lama akhirnya muncul balasan

” Wa’alaikumussalam wa rahmatullah, Wal hamdulillah, Allahu Yubarikuka. Saya sehat disini. Bagaimana dengan antum dek ? “

” Alhamdulillah, baik mas. Bagaimana dengan perangnya mas ? Antum baik-baik saja kan ? “

” Wal hamdulillah, Allah tempat memohon pertolongan. Posisi saya sekarang di Ma’bar, cukup jauh dari lokasi peperangan. Do’akan semoga Ahlussunnah diberi kemenangan atas musuh Allah! “

” Insya Allah Mas. Oh ya, kalau bisa sering-sering mas berhubungan dengan kami “

” Baarakallahu fiikum. Insya Allah, tapi disini sangat sulit untuk OL. Mungkin bisa, tapi empat bulan sekali. “

” Oh begitu ya ? Ya..tidak apa-apa mas. Mas, saya minta nasehat dari antum. Sekarang, saya kuliah di UGM, antum tahu sendiri itu kampus umum kan Mas ? “

” Baarakallahu fiikum, teruslah menuntut ilmu dien dan istiqomah beribadah. Hati-hati dan mohon perlindungan kepada Allah, bahwasanya fitnah di luar sana sangat banyak dan berbahaya. Baarakallhu fiikum wa saddada khutoka! “

Dengan kedekatan ukhuwah ini, saya merasa beliau sudah seperti kakak saya sendiri.

Kakak Ketiga

Sebenarnya mas ini juga kakak kelas saya ketika masih SMP, namun waktu itu saya belum mengenal beliau. Beliau duduk di kelas XII ketika saya diterima di SMA. Kedekatan beliau dengan mas yang saya ceritakan sebagai kakak kedua sebelumnya membuat mas yang ini sedikit banyak mempunyai kemiripan dengan kakak kedua tadi. Mulai dari gaya bicara, gaya berjalan dan lainnya.

Ada pengalaman menarik dari teman sekelas saya. Dia menceritakan suatu hari tengah mencari ruangan seorang guru. Namun, karena statusnya siswa baru, maka dia cukup kebingungan dan malu untuk bertanya pada orang yang ada di sekitar tempat tersebut. Kemudian, ada seorang siswa kelas XII lewat. Dia menceritakan mas tersebut celananya cingkrang dan seperti memahami kebingungan yang tengah melandanya. Lantas, mas tadi mendekati teman saya dan menanyakan mungkin ada yang bisa beliau bantu. Teman saya dengan sedikit gugup mengutarakan kebingungannya. Dengan tenang, mas ini menjawab dan menerangkan jalan keluar kebingungan teman saya, bahkan beliau menerangkan posisi ruangan guru tersebut dengan bahasa jawa krama alus. Tidak cukup sampai disitu, beliau bahkan mengantarkan dan mempertemukan teman saya tadi dengan guru yang dia cari.

Saat pengumuman PMDK kelas XII, saya bertanya kepada mas ini, kenapa dia memilih kampus negeri terdekat? Padahal dari segi kepandaian, beliau termasuk di atas rata-rata. Saya tidak bermaksud untuk merendahkan kampus tersebut, namun secara umum siswa dengan kepandaian setara beliau biasanya akan memilih perguruan tinggi negeri di luar kota. Waktu itu beliau hanya menjawab,

” Hak orang tua itu setelah hak Allah dan Rasul-Nya. Bisa jadi apa yang kita anggap baik untuk kita ternyata tidak baik untuk kita. Dan bisa jadi, apa yang kita anggap baik untuk kita, ternyata baik untuk kita pada akhirnya. Sepanjang tidak melanggar larangan Allah, maka patuhi orang tua “

Kakak Keempat

Awalnya saya tidak menyangka bahwa beliaulah ketua Rohis di atas saya. Tampilan beliau dari luar sungguh sederhana. Namun dibalik kesederhanaan itu, tersimpan kekayaan jiwa. Ya, beliau yang sejak SMP bahkan, mengendarai sepeda dari rumahnya ke sekolah. Padahal jika diukur, jarak rumah beliau ke sekolah terbilang cukup jauh dan panas tentunya. Namun, semangat untuk menuntut ilmu nampaknya menguatkan beliau untuk melewati semua itu. Beliau termasuk jajaran murid yang pandai di SMA, terbukti dengan keikut sertaannya di lomba Olimpiade Sains, khusunya Fisika.

Saya mulai dekat dengan beliau setelah mengetahui bahwa ternyata rumah beliau berdekatan dengan rumah saya, hanya terpisah sungai besar. Hingga sejak itu, saya sering membonceng beliau berangkat dan pulang sekolah. Saya banyak belajar dari beliau bagaimana seharusnya mengamalkan agama ini. Dan atas izin Allah Ta’ala kemudian beliau-lah saya terselamatkan dari paham yang hampir merusak jalan saya dalam memahami agama ini.

Saya masih teringat ketika malam bina iman dan taqwa pertama di Masjid Darussalam, SMA waktu itu. Pukul 23.00 WIB hampir semua peserta sudah terlelap, termasuk saya. Namun, tiba-tiba saya terbangun setelah mendengar suara agak aneh, semacam orang menghafal. Setelah saya cari, ternyata saya dapati beliau tengah mengahapal matan kitab Ushul Tsalatsah.

Semangat beliau terhadap ilmu memberikan buah yang manis. Salah satunya adalah dengan diterimanya beliau di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Jurusan Teknik Elektro dengan PMDK Berbeasiswa.

Demikianlah sedikit dari apa yang bisa saya ceritakan. Saya tidak bermaksud memuji mereka secara berlebihan bahkan saya dan mereka pun manusia biasa yang tentu mempunyai banyak kekurangan. Namun, yang ini saya ingatkan untuk diri saya pribadi khususnya adalah hikmah yang bisa diambil dari sepotong cerita di atas.

Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang seperti mereka dan berharap Allah Ta’ala senentiasa mendekatkan saya kepada orang-orang yang bisa saya ambil hikmahnya untuk meningkatkan pembelajaran dan kualitas hidup. Semoga Allah Ta’ala mengumpulkan kami kembali kelak di Jannah-Nya.

//

Selesai di Wisma Misfallah Thalabul ‘Ilmi ( MTI )

Daerah Istimewa Yogyakarta

//

Wahyu Dwi Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s