Belajar dari Dosen

ftpugmKurang lebih sudah hamipr satu setengah tahun saya menjalani kuliah di Universitas Gadjah Mada, Jurusan Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP). Selama waktu itu pula sudah banyak ilmu dan pengetahuan baru yang saya dapatkan, baik itu ilmu normatif yang berkisar pada dunia pangan maupun ilmu-ilmu yang tersampaikan secara tidak langsung melalui lingkungan fisik dan sosial yang terbentuk di lingkup Fakultas Teknologi Pertanian.

Sebagai salah satu contoh, dahulu saya tidak mengetahui apa-apa berkaitan dengan dunia teh selain memandangnya sebagai minuman sekunder disamping air putih. Namun, setelah mengambil kuliah teknologi pengolahan teh pada semester ini, saya menjadi tahu banyak tentang seluk beluk tanaman teh. Bukan soal proses pengolahan maupun sisi perkebunannya saja, akan tetapi juga tentang senyawa-senyawa kimia dalam teh yang mempunyai efek fisiologis bagi kesehatan serta sangat menarik untuk dijadikan objek penelitian. Teh bukan saja soal minuman penyegar, namun kandungannya telah menjadi bagian dari trend penelitian dunia tentang pangan fungsional dan efeknya terhadap kesehatan tubuh bahkan jiwa.

Selain ilmu pangan yang sudah barang tentu saya dapatkan sebagaimana permisalan di atas, di civitas ini saya juga mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran sosial yang bisa digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup. Salah satu sumber hikmah yang saya maksud adalah dari para dosen. Dan pada kesempatan ini, saya akan menceritakan sedikit hikmah dan inspirasi yang saya dapatkan dari beberapa dosen yang pernah saya ikuti kuliahnya.

Prof. Dr. Ir. Djagal Wiseso Marseno, M.Agr.

Beliau adalah mantan dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Baru pada tahun 2012 ini beliau meletakkan jabatannya dan digantikan oleh Dr. Lilik Sutiyarso. Pak Djagal, begitu para mahasiswa sering menyebutnya, adalah dosen yang memberikan kuliah pertama pada hari pertama kuliah mahasiswa baru TPHP yakni kuliah Pengantar Teknologi Pertanian. Karakter doktor lulusan Hiroshima University ini adalah suaranya yang lembut dan pribadinya yang tenang. Walau seramai apa pun suasana kelas, beliau tidak pernah mengeluarkan suara tinggi. Akan tetapi dengan sikapnya yang kalem akan berusaha menasehati dengan cara mengajak mahasiswa berpikir sendiri. Selain itu, beliau juga mengutamakan elaborasi penjelasan terhadap suatu permasalahan. Sehingga, bukan hal yang asing lagi ketika presentasi dan ujian, beliau meminta mahasiswa untuk memberikan penjelasan yang panjang namun sistematis.

Pada semester ini, saya mengikuti kuliah Kimia Pangan yang diampu oleh beliau. Kondisi kelas dengan banyak mahasiswa seringkali memicu kegaduhan. Saya masih teringat ketika satu kali terjadi kegaduhan pada saat beliau memberikan pemaparan, kemudian beliau berhenti. Setelah suasana agak tenang, beliau memberikan nasehat

“ Salah satu karakter dari bangsa yang maju adalah masyarakatnya yang bisa menghargai orang lain, termasuk saat orang lain berbicara, maka mereka akan berusaha menjadi pendengar yang baik. Sebab mereka menghargai dan menghormati orang yang diberikan mandat dan tanggung jawab untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut. Contoh sederhanya adalah ketika Anda sekalian sholat berjama’ah. Maka tidak ada bukan makmum yang ikut bersuara dan berbicara ketika imam menjalankan tugasnya membaca Al Fatihah dan Surat dalam Al Quran? Semuanya akan diam mendengarkan karena memahami bahwa hak untuk bersuara itu tidak melekat pada mereka. “

Nasehat lain dari beliau yang cukup mengena bagi saya adalah,

“ Pintar itu bukan ukuran kita yang menentukan. Tapi dengan siapa kepintaran kita itu dibandingkan. Jangan mentang-mentang Anda menjadi bagian dari UGM kemudian Anda menjadi sombong dan tidak mau bekerja keras. Anda tidak bisa berlindung dibalik kebesaran nama UGM, karena UGM itu besar karena kerja keras mahasiswanya. Lihatlah sedikit keluar, maka Anda akan temukan banyak sekali orang-orang yang jauh lebih hebat dan kontributif dibanding kita ini. Seumpama kita ditukar dengan bangsa Jepang, atau dengan kata lain kita semua pindah ke negara Jepang dengan segala fasilitas yang ada disana sekarang dan semua masyarakat Jepang pindah kesini dengan kondisi seperti ini, lalu dilihat berapa tahun berjalan, maka saya yakin masyarakat Jepang yang pindah kesini akan lebih maju dibanding dengan kita yang pindah kesana. “

Beliau sangat jarang memberikan tugas yang bersifat individual. Sebab bagi beliau tidak adanya namanya superman atau super woman, namun yang ada adalah super team. Beliau selalu membiasakan mahasiswanya untuk bekerja dalam kelompok dan mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhdapa orang lain serta memiliki rasa empati yang tinggi.

Prof. Dr. Ir. Sri Rahardjo, M.Sc.

Saat ini beliau menjabat sebagai ketua pengelola program S3 Ilmu dan Teknologi Pangan setelah sebelumnya diamanahi sebagai ketua jurusan TPHP yang kemudian dijabat oleh Dr. Ir. Muhammad Nur Cahyanto, M.Sc. Di usia yang terbilang masih muda, beliau sudah mendapatkan gelar guru besar. Doktor lulusan Colorado State University ini memang termasuk jajaran dosen yang tidak hanya pintar, namun juga mampu untuk memintarkan mahasiswanya. Tidak jauh beda dengan Pak Djagal, Pak Sri juga mempunyai karakter yang kalem, pembawaan yang tenang serta suara yang tidak pernah meninggi. Selama masih di kampus dan masuk waktu sholat berjama’ah, beliau tidak akan pernah ketinggalan sholat berjama’ah di mushola fakultas bersama dosen lain dan mahasiswa. Demikian kedisiplinan nampaknya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari diri beliau. Sepuluh menit. Itulah waktu toleransi keterlambatan yang beliau berikan untuk setiap kuliah yang beliau ampu. Jika sudah lebih dari sepuluh menit, maka kita hanya akan mendapat ucapan ‘out’ dari beliau.

Semester ini, saya mengikuti kuliah Pengendalian Mutu yang beliau ampu. Jujur saya agak kesulitan untuk memahami esensi dari kuliah ini, karena sifatnya yang menurut saya agak teoritis serta lebih ke arah menejemen sosial dan bukan pure sains. Namun, semenjak beliau yang mengajar kesulitan tersebut seikit banyak dapat diatasi. Model mengajar beliau lebih memberikan analogi dalam kehidupan nyata, sehingga mahasiswa dapat langsung mempunyai gambaran dari teori yang dimaksud. Meskipun tampilan slide beliau hanyalah grafik dan data-data, penjelasan beliau yang sistematis akan mempermudah mahasiswa untuk memahaminya tanpa harus membaca paragraf teori yang panjang-panjang.

Pernah suatu kali seorang teman diminta beliau untuk memberikan penjelasan. Namun, karena mungkin agak kurang bisa memilih kata-kata yang sesuai akhirnya maksud dari penjelasan tersebut tidak tersampaikan. Pak Sri kemudian memberikan nasehat,

“ Penjelasan yang baik itu tidak mesti berupa kalimat-kalimat yang panjang dan berbelit-belit. Kita juga perlu melihat siapa yang sedang kita beri penjelasan. Akan lebih baik jika menggunakan bahasa yang sederhana dan mampu memahamkan semua pihak, sehingga maksud ucapan kita tersampaikan dan bicara kita tidak sia-sia. “

Bagian kuliah yang cukup mengena bagi saya adalah ketika beliau memaparkan tentang tinjauan spesifikasi sistem. Sistem yang mempunyai nilai sigma tinggi akan mempunyai kecenderungan error dan masalah makin kecil. Misalnya sistem 3 sigma, maka dari seratus kejadian yang menimpa sistem tersebut akan ada sekitar tiga puluh kejadian yang salah. Kemudian dengan sistem 6 sigma, maka dari satu juta kejadian yang dilingkupi sistem, hanya akan terjadi sekitar tiga kesalahan. Beliau lantas membandingkan dan mengajak kami untuk berpikir kira-kira sistem tubuh manusia itu masuk pada spesifikasi yang mana. Kami semua diam.

“ Sesungguhnya spesifikasi sigam itu hanya berlaku untuk sistem buatan manusia. Dan tidak ada sistem buatan manusia yang mencapai spesifikasi 100 %. Karena spesifikasi tanpa keganjilan itu mutlak milih Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Kuasa. Bayangkan jika jantung Anda mempunyai spesifikasi 6 sigma, maka dari satu juta menit jantung anda berdetak, akan ada tiga menit jantung anda berhenti berdetak. Dan mungkin jika itu terjadi, Anda sudah tidak ada di ruangan kuliah ini lagi. Jadi, bersyukurlah, karena kita dianugerahi sistem yang paling sempurna dari makhluk lainnya. “

Dr. Ir. Supriyadi, M.Sc.

Master dari Kyoto University dan Doktor dari Shizuoka University, itulah riwayat pendidikan tinggi beliau. Sebelumnya beliau adalah wakil dekan bidang kemahasiswaan. Pribadinya yang ramah dan murah senyum menjadikan beliau dikenal hampir oleh semua mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian. Sama seperti dosen yang lain, beliau mempunyai karakter disiplin yang tinggi dan hanya memberikan toleransi keterlambatan selama sepuluh menit. Karakter mengajar beliau adalah menampilkan slide yang isinya hanya berupa gambar, grafik dan tabel tanpa uraian tertulis. Karena uraian dari slide tersebut akan beliau sampaikan secara oral, sehingga mau tidak mau mahasiswa harus memperhatikan dan mencatat penjelasan beliau.

Kurang lebih dua minggu yang lalu saya datang terlambat di kuliah beliau. Sekitar lima belas menit lepas dari pukul 07.15 saya baru sampai di kelas Teknologi Pengolahan Teh. Namun, saya dan mahasiswa lain yang kebetulan terlambat masih dipersilakan masuk. Kuliah tetap berlanjut dengan presentasi kelompok. Baru setelah presentasi selesai, beliau angkat bicara.

“ Nampaknya kelas ini mengalami sedikit kemunduran. Dulu pada waktu awal-awal kita kuliah, saya rasa sangat sedikit sekali yang datang terlambat. Namun hari ini, bahkan ada yang jam delapan kurang seperempat baru datang. Bukankah kedisplinan itu kunci kesuksesan? Nanti kalian akan merasakan sendiri hasilnya jika kalian membiasakan diri displin sejak sekarang. Bagi kalian yang muslim, tentu tidak asing lagi dengan kata-kata ‘Wal Ashr’, demi masa. Maka betapa pentingnya untuk menjaga dan menghargai waktu dalam setiap sisi kehidupan kita. “

Demikianlah banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan disini. Dan itu semua tadi baru sebagian. Karena jika harus ditulis semua disini, maka sudah barang tentu akan membutuhkan tempat yang banyak. Saya sendiri sering meyakini bahwa apa yang saya pilih dalam kehidupan saya, termasuk menjadi bagian dari Teknologi Pangan UGM bukanlah suatu kesalahan. Dan dari sinilah saya akan berusaha untuk belajar lebih banyak lagi dan mengambil setiap hikmah agar hidup ini menjadi lebih berniai dan bermanfaat.

Selamat Belajar!

//

Selesai di Perpustakaan Lantai 4 Gedung Baru

Fakultas Teknologi Pertanian UGM

//

Wahyu Dwi Saputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s