Dear Mother

beautiful-flowerHalo Ibu! Maaf tidak menghubungimu! Aku baik-baik saja…

Seminggu terakhir sebelum minggu tenang dan ujian adalah sebagian dari hari-hari sibuk bagi saya pada semester ini. Mulai dari Senin hingga Jum’at kemarin, waktu terasa hampir sebagian besar diminta untuk membuat bahan dan presentasi, mulai dari kimia pangan, jurnal ilmu gizi, jurnal efek kesehatan teh dan lainnya. Karena kebiasaan memode silent-kan hanphone, saya sering tidak sadar ada sms atau telpon yang masuk, lebih-lebih waktu sibuk seperti tadi. Biasanya hanya sebelum tidur malam atau pagi sebelum berangkat kuliah saya mengecek hanphone. Terakhir adalah Jum’at malam sesudah membaca bahan untuk menyusun paper toksikologi dan keamanan pangan, ada dua daftar panggilan tak terjawab di layar handphone.

Ibu. Seperti biasanya, kontak itulah yang paling banyak muncul di daftar panggilan masuk selain Bapak. Memang Ibu selalu rutin menelpon setidaknya tiga hari sekali, biasanya setelah sholat Shubuh. Jarang ada hal baru yang beliau tanyakan setiap kali menelepon. Yang paling sering beliau tanyakan adalah bagaimana kondisi kesehatan, bagaimana dengan kuliah, ada rencana pulang kapan dan yang berkisar dengan hal tersebut. Memang sepintas terkesan biasa saja, namun bagi saya itu istimewa. Dan malam itu saya melewatkan kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Karena tidak biasanya Ibu menelpon di malam hari. Ketika mau menelpon balik, ternyata masa aktif kartu SIM habis dan waktu sudah agak larut sehingga kemungkinan sulit mencari counter pulsa yang buka. Terpaksa saya harus menunggu siapa tahu beliau menelpon lagi.

Sambil menunggu, sejenak saya memandang keluar wisma. Gerimis kecil masih membasahi bumi Yogyakarta. Sepi. Dari kejauhan hanya nampak pantulan lampu motor dan mobil yang berlalu lalang melintasi jembatan baru Sinduadi-Monjali. Langit masih mendung dan udara dingin menyelimuti badan. Kondisi semacam ini sering membuat saya menjadi ingat dengan rumah. Saat-saat dimana disana saya banyak menghabiskan waktu bersama Ibu.

Masih teringat jelas saat-saat dimana saya belajar setiap malam untuk memperbaiki kegagalan saya dengan kembali mengikuti SNMPTN Tulis tahun 2011. Ibu selalu menemani saya belajar tanpa saya minta. Ketika saya sedang serius mengerjakan soal latihan, beliau memilih untuk membaca buku-buku ringan. Terkadang membaca buku-buku keagamaan yang saya beli atau membaca Al Qur’an dengan suara lirih. Jika saya terlihat sudah lelah dan kesulitan mengerjakan, beliau akan membuatkan saya teh hangat. Terkadang saya minta dibuatkan sirup manis atau kopi, tapi permintaan itu jarang beliau turuti. Alasannya sederhana, beliau memahami bahwa saya biasa mengalami batuk ringan kalau sudah kebanyakan minum sirup. Selain itu, beliau tidak mau jika kebanyakan kopi akan membuat saya menjadi sulit tidur, padahal kalau sudah kurang tidur saya akan pusing-pusing, sulit berkonsentrasi dan biasanya emosi tidak stabil. Beliau selalu ingin memastikan bahwa saya selalu dalam keadaan baik bahkan sebelum berpikir bagaimana dengan keadaannya sendiri.

Jika di rumah, suara Ibu adalah nada yang paling hangat dan nyaman didengarkan dibandingkan jam alarm manapun untuk membangunkan tidur. Jam berapapun saya minta dibangunkan sebelum kumandang adzan shubuh, beliau senantiasa menuruti sesuai dengan permintaan saya. Meskipun terkadang saya sendiri yang akhirnya tidak bisa menepatinya walau sudah dibangunkan beberapa kali. Salah satu larangan yang hingga kini masih sering beliau ingatkan adalah tidak boleh tidur lagi sesudah sholat shubuh, kecuali jika sakit atau benar-benar tidak kuat. Sejak kecil, beliau membiasakan saya untuk selalu membaca Al Qur’an setelah pulang sholat shubuh dari masjid. Yang satu ini, sekuat tenaga selalu berusaha saya jaga. Tapi anjuran beliau berikutnya untuk berolah raga adalah hal yang sampai sekarang masih sulit saya terapkan. Kalau di SMP dulu, biasanya selesai membaca Al Qur’an saya mencuri tempat dan waktu untuk tidur. Kalau tidak di kamar lain, biasanya ya di tempat belajar sambil duduk di atas kursi. Tentu Ibu tahu hal ini, tapi beliau tidak pernah sekali pun marah meskipun tidak lelah juga untuk mengulang nasehatnya, jangan tidur lagi setelah sholat Shubuh!

Beliau adalah orang yang sejak TK hingga SMA selalu mengambil laporan belajar saya. Tidak seperti sebagian orang tua yang lain, beliau tidak mau mewakilkan orang untuk mengambil rapor putranya. Dan saya merasa bersyukur karena sejak kelas 1 SD caturwulan pertama hingga SMA semester terakhir, saya masih bisa mempersembahkan angkan 1 atau 2 di isian peringkat rapor. Kecuali di satu kesempatan, yakni ketika rapor ujian tengah semester kelas XI SMA tertulis peringkat 8. Waktu itu beliau menanyakan kenapa saya bisa mengalami penurunan sejauh itu. Saya sendiri sebenarnya juga kaget dan bingung. Dan dengan asal saya menjawab,

“  Toh juga cuma nilai mid semester kan ? Lagi pula tujuan sekolah kan bukan buat ngejar peringkat. Pelajar sekarang itu sulit-sulit Bu! “

Beliau tidak menanggapi pernyataan saya. Yang terlihat hanya raut wajah yang sedih, seperti ada sesuatu yang ditahan. Malam harinya, saya terbangun kemudian mengintip dari balik pintu kamar. Ternyata benar. Seperti biasanya Ibu sholat tahajud. Entah apa yang beliau panjatkan, tapi samar terlihat beliau meneteskan air mata. Seketika saya teringat dengan ucapan saya tadi dan merasa sangat bersalah. Betapa bodohnya saya. Sejak saat itulah saya memahami bahwa salah satu hal yang paling menyakitkan di dunia ini adalah ketika orang tua disakiti perasaannya oleh anaknya sendiri. Dan sejak saat itu pula saya bertekad bahwa hal itu tidak akan terjadi lagi.

Ibu juga tempat dimana saya selalu berkeluh kesah dan mengutarakan permasalahan hidup. Walaupun terkadang beliau sendiri belum pernah mengalami apa yang telah saya alami, namun beliau selalu berhasil memberi jalan keluar yang terbaik. Saya pun meyakinkan diri untuk berani keluar tanpa jaminan dari kampus saya sebelumnya, yang telah memberikan saya banyak sekali fasilitas, setelah saya ungkapkan semua permasalahan kepada Allah kemudian Ibu. Ibulah orang pertama yang memahami bahwa saya nekat drop out dari salah satu institut teknologi di Jawa Timur bukan karena memandang rendah atau benci dengan kampus tersebut, melainkan karena saya tidak menemukan jiwa dan kecocokan di kampus tersebut. Di saat banyak teman menjauh dan meninggalkan karena saya keluar kuliah, Ibulah yang dengan sabar mendukung dan selalu menyemangati saya. Ibu yang selalu meyakinkan bahwa setelah itu semua pasti saya akan menemukan tempat belajar yang terbaik untuk saya. Dan ketika pengumuman SNMPTN Tulis 2011 tiba, walaupun bagi sebagian orang memandang jurusan saya yang baru terkesan remeh dan tidak sekelas dengan jurusan saya sebelumnya, Ibu tetap tersenyum bangga dan memeluk saya erat serta mengecup kening saya. Doa beliau waktu itu adalah agar di tempat yang baru ini, saya benar-benar mendapatkan restu dari Allah Ta’ala sehingga mampu menyerap sebanyak-banyaknya ilmu untuk menjadi orang yang berguna.

Ibu adalah penggemar tanaman meskipun bukan termasuk fanatik dan memiliki koleksi yang banyak. Di beberapa bagian halaman rumah dulu tumbuh bunga-bunga kecil dan tanaman sayur. Masih teringat ketika kecil, saya menanyakan nama suatu bunga yang beliau tanam di halaman rumah. Bentuknya seperti jarum pentul besar. Mahkotanya berwarna orange dan hanya berbunga di saat-saat tertentu saja. Waktu itu beliau menjelaskan kalau bunga itu namanya adalah Bunga Desember. Kenapa namanya demikian ? Karena bunga tersebut hanya akan mekar ketika sudah masuk bulan Desember. Awalnya saya tidak percaya. Namun, setelah masuk bulan Januari, memang benar mahkota bunga tersebut mulai rontok kemudian mati. Dan benar juga setelah itu, bunga tadi tidak mekar lagi setelah masuk bulan Desember. Dan akhirnya dari situ jugalah, kegemaran saya terhadap bunga muncul. Meski tidak mengoleksi satu jenis bunga pun di kehidupan nyata, tapi di tempat penyimpanan file saya jangan heran jika menemukan banyak sekali foto bunga.

Dan akhirnya saya menyadari bahwa mungkin saya tidak akan pernah bisa membalas budi kepada orang tua dengan balasan yang setimpal. Sederhana saja. Apabila Allah Ta’ala takdirkan, saya ingin menceritakan kepada anak saya nanti tentang semua cinta yang telah mendukung saya tadi. Suatu hari nanti, saya ingin membuktikan kepada Ibu bahwa salju dan bunga sakura itu benar-benar ada dan indah. Saya ingin mengantarkan ayah dan ibu mengunjungi rumah-Nya yang mulia. Mungkin saya tidak bisa membanggakan mereka di hadapan semua orang, tapi saya ingin menjadi kebanggan mereka cukup atas diri mereka sendiri setidaknya. Dan yang terpenting dari itu semua, saya berdoa kepada Allah Ta’ala agar menjadikan saya salah satu dari tiga sumber pahala yang tidak terputus bagi mereka, yang senantiasa mendoakan mereka dan akhirnya mengantarkan mereka dalam keridhaan-Nya yang abadi, Amiin.

I’m glad I’m your son

I’m glad You’re my mother

And that won’t ever change

It won’t ever change for all time

//

Ditulis di Sukoharjo

Setelah ungkapan impian-impian yang diaminkan oleh wanita yang rambutnya mulai bercampur dengan warna putih  

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s