Japan Educational Seminar 2013 Bandung

200105_509507432422980_1925996188_nPerjalanan kali ini terasa sedikit berat. Entah kenapa rasanya agak sedikit malas untuk menyambangi kota Bandung kembali. Padahal jika diingat, dulu saya sempat tidak ingin pulang dari kota itu setelah menetap disana walaupun cuma lima hari. Namun judul di atas mengalahkan kemalasan saya. Seperti pepatah Jepang bahwa mimpi tanpa aksi ibarat angan-angan di siang hari. Saya berangkat bersama tiga teman lain dari Stasiun Purwosari menggunakan Kereta Kahuripan kelas ekonomi.
Pukul 08.00 waktu Bandung hari berikutnya, kami sampai di Stasiun Kiaracondong. Kesan pertama agak kurang menyenangkan, karena kami salah ambil jalan keluar. Kami keluar melalui pintu selatan dan melewati jalanan becek serta sedikit kumuh. Rasanya tidak pas sekali dengan julukan Kota Kembang untuk Bandung. Kami dijemput menggunakan motor oleh teman-teman alumni SMA Negeri 1 Surakarta. Sepanjang perjalanan, saya mencoba mengingat kembali kesan tiga tahun yang lalu. Banyak hal yang sudah berubah atau mungkin dulu saya belum melihat Bandung yang sebenarnya. Saya merasa kalau suasana perempatan jalan Kaliurang di dekat UGM saat pagi hari itu sudah sedemikian macetnya. Namun ternyata di Bandung saat ini, hal tersebut bisa dibilang tidak ada apa-apanya. Yang sedikit kurang nyaman lagi ketika lampu hijau menyala dan kemudian harus bergiliran lewat karena antrian panjang, mobil-mobil di belakang kami malah bersahut-sahutan mengeraskan klakson mereka. Teman saya bilang, “ Maklum, kota besar ! “
Sesampainya di kontrakan teman, saya langsung tidur. Rasa pegal bekas perjalanan panjang dan kursi kereta yang keras membuat tubuh terasa sangat capek. Waktu Dzuhur saya bangun, mandi dan sholat di masjid dekat kontrakan, kemudian tidur lagi sampai waktu Ashar. Rencana hari pertama untuk pergi ke Ciater terpaksa kami batalkan. Sebagai gantinya, selepas Ashar kami pergi ke bukit Moko di Cimenyan. Dan lagi, sepertinya jalan raya tidak pernah lepas dari kata macet.
Ada sedikit ketenangan ketika memandangi matahari senja yang terbenam. Di batas cakrawala, langit menggoreskan paduan warna yang indah. Dari bawah, kota memantulkan gemerlap sinar lampu yang berwarna-warni, seperti pecahan kaca berwarna yang berserakan. Udara dingin bercampur uap air menghembus kencang, membuat bibir kami pucat. Dari kejauhan sayup terdengar kumandang azan. Kami sholat kemudian menghangatkan diri dengan secangkir susu coklat hangat dan mie instan.

205699_4791559459455_2013891785_n
Ahad, 27 Januari 2012. Kami sampai di ITB pukul 09.30 pagi. Dan seperti dugaan sebelumnya, antrian masuk ke Aula Barat sudah sangat panjang. Padahal menurut jadwal, seminar masih dimulai setengah jam lagi. Japan Educational Seminar Indonesia 2013 di Bandung ini digelar secara langsung oleh Ministry of Education, Culture, Sport, Science and Technology ( MEXT ) Jepang. Tujuannya adalah untuk mengenalkan program Global 30, yakni program kuliah di Jepang dengan bahasa pengantar menggunakan bahasa Inggris pada 13 universitas Jepang yang ditunjuk oleh MEXT. Sejujurnya, saya tidak tertarik dengan program ini. Karena selain hanya bidang tertentu saja yang bisa diambil, program ini sebenarnya juga diperuntukkan bagi calon mahasiswa yang mempunyai kemampuann finansial. Tujuan saya tetap datang pada seminar ini adalah untuk semakin mengenal lebih dekat profil universitas-universitas di Jepang. Dan jika suatu hari nanti, Allah mengijinkan saya untuk ikut seleksi beasiswa ke Jepang, setidaknya sejumlah orang yang hadir pada saat itulah yang akan menjadi seperjuangan dengan saya. Sebagai gambaran, teman saya mendapat nomor registrasi 1600-an. Padahal hari dia mendaftar masih terbilang cukup jauh dari hari pendaftaran di tutup. Dan itu pun masih ditambah dengan peserta seminar yang datang pada hari H tanpa membawa undangan karena belum mendaftar. Belum lagi hari sebelumnya juga ada seminar serupa di Jakarta dengan peserta yang berbeda tentunya.
Tepat pukul 10.00 pintu aula dibuka. Kami menukarkan confirmation of registration dan mendapat tas jinjing lengkap dengan course list di dalamnya. Boot pertama yang saya kunjungi, tentu Tohoku University. Karena universitas itulah yang ingin saya jadikan tempat studi nantinya. Ada dua petugas disana, tapi tampaknya mereka bukan sensei. Dan benar ternyata setelah saya mencoba bertanya tentang riset yang berkaitan dengan bidang saya di Tohoku, salah satu dari mereka agak kesulitan untuk menjawabnya. Dia hanya menyarankan saya untuk sering mengunjungi situs profesor atau departemen yang menjadi minat saya. Kurang puas juga sebenarnya dengan jawaban tersebut. Karena untuk sekedar jawaban tersebut, saya juga sudah tahu sebelum-sebelumnya.
Di sebelah boot Tohoku University, ada boot The University of Tokyo. Niat hati ingin berpindah ke boot tersebut, tapi karena sangat ramai sekali jadi saya urungkan. Saya berpindah ke boot Kyoto University. Universitas pertama yang menarik hati saya saat awal-awal mulai terbangun harapan untuk melanjutkan studi ke Jepang nanti. Namun karena topik risetnya kurang sesuai dengan minat saya, akhirnya saya tidak melanjutkan ketertarikan saya. Tapi, mumpung tidak terlalu ramai, saya sambangi juga bootnya, hitung-hitung untuk belajar membangun komunikasi.
“ Hello, what is your major ? “
“ I’m food technology “
“ Oh..of course, we have a program in graduate school of agriculture that’s related to your current major. It’s Se…kho..lah..pasca…sar.. “ ( mencoba mengeja tulisan berbahasa Indonesia )
“ Sekolah Pasca Sarjana Pertanian “, saya menimpalinya.
“ Yes..ha.. ha.. It’s your language! “ “ So..The english course in graduate school of agriculture is programmed as special course in agricultural science for the global future of life, food and the environment. This course is aims to develop the next generation of human resources with advanced research abilities, profound knowledge and an international perspective in teh fields of life, food and the environment. Lectures are given by international teaching staff. And you know, Kyoto University has been home to historically respected sholars such as Nobel. And from the 18 Japanese who have won the Nobel prize, we have 8 persons. Imagine, 8 persons from 18 Japanese. “
“ Including Prof Shinya Yamanaka ? “
“ Yes..of course. So you have searched about our campusses ? “
“ Of course I have. But, may i ask something to you ?
“ Hai! Dozo.. “
“ I have just read in this brochure that the main course offered in food and biotechnology major in your campus is about food engineering, isn’t it ? “
“ Let me to look it for a moment ! “ “ Hemm.. I think yes..is there any problem ? “
“ Oh no.. but i want to study about food chemistry or nutrition and its relation to the human health. I’m not too interested in food engineering. “
“ So. You can’t apply to english course. But you still can join us by Monbukagakusho scholarship. You will study about Nihongo before study as degree studdent. And then, the course later will be given in Japanese langauge. “
“ Oh.. I see. Thank you very much for your attention. Arigatou Gozaimasu ! “
“ You’re welcome. Arigatou Gozaimasu ! ”
Selanjutnya, saya menengok kembali boot Todai dan masih saja ramai. Baru kemudian ketika Todai mendapat giliran presentasi pengenalan di ruang seminar, bootnya menjadi sedikit longgar. Saya duduk dan diterima oleh seorang petugas bapak-bapak yang wajahnya mirip orang India. Kali ini kami bisa berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia, karena ternyata beliau adalah dosen di ITB sekaligus alumni Todai.
“ Gimana mas, ada yang bisa dibantu ? “
“ Ehm..begini pak. Sebelumnya saya disini tidak ingin bertanya tentang program Global 30 yang ada di Todai, apakah boleh ? “
“ Oh..silahkan..gak masalah. Santai saja. “
“ Saya kan sekarang masih S1 di Teknologi Pangan UGM. Nah, rencana saya pengen melanjutkan kuliah ke Jepang, salah satunya ke Todai. Tapi masalahnya, setelah saya telusuri melalui web, kog program yang ada keterkaitannya dengan pangan itu justru lebih ke arah ekonomi atau manajemennya. Padahal, saya itu berharap bisa lebih ke arah sainsnya atau yang lebih ke arah riset murninya pak. “
“ Emm..sebelumnya maaf ya mas, saya kurang tahu kalau tentang pangan. Karena saya sendiri dari geofisika. Cuma saya merasa, mungkin mas kurang teliti saja. Karena ada banyak sekali laman-laman turunan yang ada di Todai itu. Ya..cobalah mencari dengan keyword yang lebih spesifik. Misalnya Laboratory of Food Chemistry The University of Tokyo atau sejenisnya. Atau kadang memang laman itu ditulis dengan interface bahasa Jepang, jadi agak sulit ditelusuri. “
“ Wah..kalau interfacenya bahasa Jepang ya sulit dong pak untuk memahami informasinya “
“ Ya belajar mas. Belajar bahasa Jepang. Rugi lho mas kalau kuliah di Jepang selama beberapa tahun tapi tidak bisa bahasa Jepang. Memang pada beberapa kasus, bahasa Jepang bukan menjadi bahasa pengantar disana. Tapi tetap saja akan ada nilai tambah kalau kita menguasai bahasa Jepang. Lagi pula, bahasa Jepang itu tidak lebih sulit kog dari bahasa Inggris. “
“ Kalau boleh minta saran ya pak, sebaiknya mulai sekarang ini untuk ukuran saya mungkin meningkatkan belajar bahasa Inggris atau mulai belajar bahasa Jepang ? “
“ Kalau bahasa Inggris kan sudah sejak SD ya mas kita belajar. Jadi ya, mas bisa tebak sendiri kan jawabannya apa ? “
“ Hemm..kalau menurut bapak sendiri, prefer Global 30 atau Monbusho pak ? “ut
“ Semuanya baik mas. Semuanya adalah produk dari MEXT. Global 30 itu kan memang dimunculkan untuk mengurangi kendala masalah bahasa. Tapi sifatnya ya hanya sebatas policy saja. Kalau saran saya, mungkin mas lebih baik mencoba Monbusho dulu. Karena itu beasiswa penuh lho mas. Jadi berangkat ke Jepang cuma bawa badan sama koper saja. Kalau Global 30 kan tidak ada jaminan beasiswa, meskipun ada juga potensi untuk dapat. Tapi kalau mas masuk lewat Monbusho, mas akan ditraining dulu dengan pelajaran bahasa Jepang, jadi nilai plusnya banyak. “
“ Tapi saingannya banyak juga kan pak ? apalagi untuk ukuran Todai. “
“ Semua itu bergantung pada usaha dan kerja keras kita mas. Kalau kita punya tujuan, jangan berhenti dan terpaku pada tujuan tersebut. Tapi bekerja dan berusahalah sekuat tenaga untuk menggapai tujuan tersebut. Jangan membangun sebuah harapan kosong. Maksudnya begini, mungkin ada banyak sekali orang-orang di luar sana yang punya mimpi kayak mas ini. Tapi, seberapa banyak sih dari mereka yang mempunyai kompetensi. Ini poin penting yang sering sekali dilalaikan mas. Sekedar kualifikasi saja tidak cukup untuk menggapai impian, tapi butuh kompetensi yang terus dikembangkan. Usaha, kerja keras, pantang menyerah, selalu berdoa. Dan satu lagi, kalau mas adalah seorang muslim, maka implementasikan ibadah-ibadah mas dalam kehidupan sehari-hari. Perbaiki juga niatnya. Jangan cuma pengen kuliah ke luar negeri karena gengsi. Tapi niatkan untuk belajar dan menjadi orang yang berguna! “
“ Wah..terima kasih banyak pak atas nasehatnya. Insya Allah, saya akan lebih berusaha lagi untuk menggapai harapan-harapan tersebut. Kalau begitu, saya undur diri dulu pak, sekali lagi terima kasih! “
“ Oke..sama-sama, sukses ya! Semoga bisa menjadi bagian dari kami. “

Saya melangkah keluar dari tempat seminar dengan sebuah semangat baru. Semangat bahwa tidak cukup sekedar memasang target hidup, tapi dibutuhkan usaha keras dan menemukan jalan yang terbaik untuk mencapai target tersebut. Akan ada banyak halangan dan ujian tentunya di depan sana. Dan saya harus kuat serta menjadi lebih kuat dengan ujian tersebut.
Sesudah itu saya sholat dzuhur di Masjid Salman dan memohon kepada Allah Ta’ala agar selalu membenarkan niat saya. Bahwa kuliah disana bukanlah untuk mencari prestige atau gelar, tapi amanah dan proses menjadi insan yang lebih bermanfaat dan memberikan kontribusi bagi kemanusiaan, Semoga!
//
Wahyu D. Saputra
There is no end to learning

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s