Sekolah Kaderisasi

modern-japanese-houses-interior-decorAwal September tahun ini, tepatnya tanggal 9 September saya resmi menempati rumah tinggal baru di Yogyakarta. Setelah dua tahun menikmati hidup sebagai mahasiswa sekaligus santri dan anak asrama di Wisma Muslim Misfallah Thalabul ‘Ilmi (MTI), akhirnya saya memutuskan untuk tidak memeperpanjang lagi kontrak di MTI. Mulanya sempat ragu juga apakah sekarang keputusan yang tepat untuk keluar dari MTI. Namun, setelah melewati pemikiran yang panjang dan berbagai macam pertimbangan, saya membulatkan tekad untuk keluar.

Dua tahun tinggal di MTI memberi pelajaran hidup yang banyak bagi saya. Kebersamaan, semangat, jiwa religius, kesibukan di luar mahasiswa pada umumnya dan kegiatan layaknya santri pondok pesantren menjadi kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan. Pertama kali menginjakkan kaki di MTI bersamaan dengan kegiatan daftar ulang mahasiswa baru UGM tahun 2011. Dari semula memang tidak ada referensi untuk tinggal di kos-kosan. Selain cocok dengan profil MTI sebagai hunian ditambah biaya sewa yang ultra murah, saya dan empat teman waktu itu memutuskan untuk menjadi bagian dari MTI. Di MTI, penghuni tidak hanya fokus dengan bebannya sebagai mahasiswa, tapi juga dibina untuk menjadi pribadi muslim yang berkualitas. Mahasiswa diarahkan untuk mengikuti kegiatan keagamaan rutin seperti kajian kitab, setoran hafalan Quran dan Hadits, belajar bahasa arab serta tidak luput menjadi panitia kajian-kajian akbar. Skala kajiannya pun tidak tanggung-tanggung, terkadang sampai mendatangkan syaikh dari timur tengah yang acaranya dihelat di Masjid Kampus UGM.

Seiring berjalannya waktu, Mahendra mengundurkan diri setelah setahun di MTI. Dia adalah adik kelas semasa SMA yang akhirnya satu angkatan ketika diterima di UGM (karena sebelumnya saya kuliah di ITS). Alasannya lebih karena permintaan orang tua. Saya dan sisa teman dari Sukoharjo tetap melanjutkan kontrak di MTI. Sayangnya bersamaan dengan kontrak baru itu, kesibukan saya dengan kuliah pun mulai menunjukkan batang hidungnya. Berangkat pagi pulang malam, menjadi asisten praktikum termasuk menjalani praktikum itu sendiri, membuat profil industri dan seabrek kegiatan kampus lainnya membuat saya agak kelimpungan membagi waktu. Ditambah lagi status saya sebagai penerima beasiswa berbasis akademik yang dibebani tanggung jawab untuk mempertahankan prestasi di kampus sehingga dengan terpaksa sebagian kegiatan di wisma MTI tidak bisa saya ikuti. Hal ini berlanjut sampai semester empat dimana saya dihadapkan pada kondisi pra kerja praktek yang benar-benar menguras waktu. Lama-lama rasanya tidak enak hati juga selalu absen dari kegiatan wisma. Dan dengan aspek pertimbangan yang lain, akhirnya dengan terpaksa pula saya mengakhiri kontrak di MTI. Bersamaan pula Fauzan, Taufik dan Mas Faizal hengkang sehingga tidak tersisa alumni SMA Negeri 1 Sukoharjo di MTI.

Saya pindah ke daerah Karangjati, Monjali yang secara arah mata angin terletak di sebelah barat MTI. Otomatis jarak dengan kampus juga semakin jauh. Saya tinggal bersama teman-teman alumni SMA Negeri 1 Surakarta yang telah saya kenal sebelumnya dan kebetulan salah satunya adalah teman satu jurusan dan satu angkatan dengan saya di UGM. Rumah kami ini disebut Sekolah Kaderisasi. Tidak ada makna khusus dari nama tersebut. Secara kebetulan ada tulisan renda Sekolah Kaderisasi di rumah yang kami tempati sehingga tanpa perlu repot mencari nama lagi, nama tersebut kami pakai.

Sekolah Kaderisasi memang tidak seperti MTI. Namun disini saya masih diberi kesempatan untuk tinggal dengan teman-teman yang luar biasa. Ahmad Syaifurrasyid, Teknik Elektro 2011. Dia lebih bisa disebut sebagai ketua kami. Diantara lima penghuni, hanya Ahmad yang tidur sekamar sendiri. Tipikal teman yang cerdas, tegas, tidak banyak bicara, jiwa pengusaha dan sering melakukan hal-hal di luar kebiasaan orang pada umumnya. Fajar Bayu Prakoso, Teknik Kimia 2011. Seorang Japanese Lover seperti saya, yang banyak berteman dengan Anime dan J Dorama. Meski begitu, prestasi kuliahnya masih saja tinggi. Saya biasa membicarakan banyak hal tentang Jepang dengan orang ini, mulai dari yang sederhana seperti makanan khas Jepang sampai masalah ilmiah semacam perkembangan riset terbaru di Jepang. Fajar juga partner yang mempunyai visi sama, yaitu melanjutkan studi pascasarjana ke Jepang selepas lulus sarjana nanti. Bedanya, dia sangat tertarik dengan Tokyo Daigaku sedangkan saya leih ke utara agak jauh, di kota Sendai, Insya Allah. Selanjutnya, Onne Akbar Nur Ichsan. Onne adalah teman sejurusan dan seangkatan dengan saya di Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian UGM. Saya mengenalnya sejak hari pertama kuliah dan sampai sekarang menjadi sahabat yang akrab. Meski kadang orangnya bingungan, tapi dengan dia sering saya membicarakan hal-hal yang sifatnya pribadi. Dulu Onne mempunyai target untuk melanjutkan studi pascasarjana di Wageningen University, Belanda. Tapi beberapa waktu yang lalu dia berkata kepada saya kalau ingin melanjutkan ke The University of Reading, Inggris. Fans berat Liverpool ini lebih saya anggap seperti adik saya sendiri. Dan yang terakhir bergabung adalah Danang Khoirul Ahmadi, adik kelas SMA yang tahun ini juga diterima di jurusan yang sama dengan saya. Dia menjadi teman satu kamar dengan saya sekarang.

Dan akhirnya, dimana pun saya tinggal, Jogja masih menjadi tempat yang nyaman. Bersama teman-teman saya yang baru sekarang, kami berusaha saling menyemangati untuk menjadi manusia yang lebih baik dan berguna. Bersama dengan mereka, saya akan membangun kenangan baru yang nantinya Insya Allah bisa menjadi teman di fase selanjutnya dan diceritakan kepada anak istri. Semoga.

pic source : zeospot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s